Author: ira
•11:04 PM

Kau tau tak ada senja yang benar-benar sama? tidak kemarin dengan hari ini, atau hari ini dengan esok, setiap hari punya senjanya sendiri, begitu kata temanku, ku kira ia berkata benar. Walau senja sore ini aku masih di tempat yang sama, dengan aktivitas yang nyaris sama, duduk di kursi yang kemarin, monitor usang yang kemarin, pesawat telepon yang kemarin, bahkan teman-teman di ruangan ini pun tetap sama seperti kemarin, teman-teman yang aku sanggup menghafal setiap lekuk wajahnya, mungkin gaya jalan dan bicaranya, bahkan kebiasaan-kebiasaannya, semua masih sama, tapi tidak dengan senja di luar sana, hari ini senja telah rekah dan tak punya kembaran.

Aku tidak tahu sejak kapan menyukai suasana senja atau aku hanya senang melihat langit yang tiba-tiba merona, mungkinkah langit malu bertemu malam? Bagiku senja adalah sebuah keniscayaan, seperti maut yang menjemput segala sesuatu yang disebut hidup, menjadi batas dunia dan akhirat, senja pun begitu menjadi mirip garis tipis di batas malam dan siang, ku sebut begitu karena senja hanya hadir sesaat tak ada senja sepanjang siang atau menyamai lamanya malam.

Hari ini pekerjaan usai lebih cepat dari hari biasanya, dan aku segera berkemas pulang. Langit tidak merah benar, mungkin karena senja ini mendung dan rintik gerimis sempat turun, aku berjalan santai, toh tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di mes tempat aku tinggal, bahkan aku sering bercanda jika jarak mes dan kantor ‘kepleset’ saja aku sampai di kantor dan sebaliknya. Dulu, ketika aku kost di daerah Gedung Meneng sering aku pulang berjalan kaki dari kampusku kira-kira pada jam seperti sore ini, biasanya aku tak sendiri bersama teman satu jurusan atau teman satu kamarku, walau jarak yang kutempuh cukup jauh—sepanjang jalan Sumantri Brojo Negoro-- tapi tak terasa, jarak telah menyusut oleh obrolan, mulai dari masalah mata kuliah, dosen, cita-cita, rencana menikah, sampai cerita masalalu, cinta monyet misalnya, tak terasa kostan telah di depan mata setelah melintasi pertokoan di sekitar kampus di susul trotoar panjang dengan kebun kelapa di tepi jalan jalan sebelah kanan, lumayan dengan berjalan kaki kami bisa menghemat dua ribu rupiah, jika seminggu artinya dua belas ribu, lumayan bisa untuk tambahan beli lauk, biasa anak kost kan berpotensi menderita gizi buruk.

Mengenai gizi buruk ini, aku dan satu kamarku punya cerita sendiri. Jika Ramadhan tiba, sering aku menghabiskan senja di mushola Tarbiyah Fakultas Ekonomi, tujuannya tak lain tak bukan adalah untuk ikut iftor jama’i alias buka puasa bersama GRATIS, biasanya BPH mushola menyediakan hidangan pembuka, seperti kurma, kolak, es buah dan semacamnya, setelah sholat Magrib barulah kami pulang, dan kini setelah senja-senja itu lewat beberapa tahun yang lalu, sering aku tersenyum sendiri mengingatnya. Ahhh cerita senja memang selalu membuatku rindu untuk mengulangnya.


Senja Ke -14 dibulan April 2010

This entry was posted on 11:04 PM and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: