Awan menggantung di ujung-ujung
Di tepi langit berjahit
Pelan-pelan, putih seolah berjalan.
Malam belum tinggi benar.
Saat ingatan berjalan ke belakang, disinari temaram separuh bulan
Melewati taman melati-melati putih
Yang dulu kau ceritakan, usai hujan
November tahun lalu.
Angin hembuskan mantra-mantra
Merengkuh dingin di pangkuan ibu pertiwi
Dedaun menari diiringi tetabuh sunyi
Ingatan terus mengeja setiap kisah yang telah jadi bait-bait puisi
Terus berjalan jauh ke ujung waktu
Dan seketika langkah itu terhenti, saat kutemukan prasasti bertulis pertanyaan;
“Mengapa dulu kau ceritakan aroma melati pada mawar berduri”
Jika aku tua nanti, masihkah aku tetap cantik seperti nenekku, bisakah setabah dan setegar beliau menjalani hidup yang tak mudah, atau masihkan aku ‘seperkasa’ beliau diusia senja. Ya perkasa, aku sebut begitu karena di usianya yang tak muda, ia masih sanggup membuat gerabah dari anyaman bambu seperti tampah, Kepang (alas untuk menjemur padi), Kalao (Alat untuk menyaring ampas kelapa).
Nenek mempunyai 6 orang anak, 29 Cucu, 20 cicit, dan seorang Canggah. Terkadang beliau homur tentang banyaknya anaknya begini, dalam bahasa jawa, anak ora enak di kletak, putu ora keno diulu, buyut ora enak diemut, ku kira jika Anda orang Jawa akan tahu artinya, akhirnya tawa pun pecah mewarnai pertemuan kami lebaran kemarin, tapi menurut beliau tua dengan dikelilingi banyak cucu adalah penghiburan di masa senja.
Aku sangat mengagumi nenekku, beliaulah nenek satu-satunya yang aku punya, karena nenek dari Bapakku meninggal jauh sebelum aku dilahirkan begitu pula dengan kedua kakekku, dulu aku pernah membayangkan betapa bahagianya jika memiliki empat orang kakek-nenek, pasti kalau lebaran THRnya banyak.. he..he.. ini sih pikirian masih kecil.
Jika aku tua nanti, meski usia sudah ada yang mengatur, dalam do’a aku memohon ingin dipanjangkan usia, agar bisa melihat anak cucu seperti nenekku dan pesan yang selalu disampaikan adalah, urip iku kudu nrimo ing pandum
Aku tinggalkan engkau, Sesaat saja, ini bukan kalimat perpisahanku dengan seseorang
tapi perpisahanku dengan meja kerja di kantor. Libur lebaran 1431 H kali ini aku libur mulai besok 09 sd 14 September, lumayan 5 hari, sebenarnya hari ini hanya ragaku saja yang di sini (lebay ya...?) ya tapi benar saya sudah sangat merindukan rumah.
Belum di bereskan
Rapi, dan siap ditinggal liburan
“Ingatkah kau teman,satu gelas es Marimas, sayur kates, peyek teri, dan sambel ijo menjadi menu buka puasa hampir tiap hari?
Ku balas sms tersebut hanya dengan emotikon senyum :)
Tak selang lama balasan ku terima;
“SMS apa? Kosong?”
Maka ku balas dengan bercanda, begini;
“Iya tah? Coba cek yang bener, itu isinya segelas marimas, sayur kates, peyek teri, dan sambel cabe ijo. Coba cek dulu..”
“Mana, ga ada”
Maka cepat ku balas;
“Gimana si? Mana mungkin bisa makanan dikirim lewat sms?” he..he..
Saat itu aku sadar bahwa sebenarnya kami sedang bernostalgia, sedang mengingat kebersamaan yang begitu dekat, dua tahun, bukan waktu yang sebentar walau tak terlalu lama tapi apa yang telah kami alami, walau tak seperti lagu dangdut, makan sepering berdua tidur di tikar bersama, bagaimana dulu berbagi tempat tidur, berbagi sepotong roti, bergantian kamar mandi—walau terkadang berteriak dari luar,cepetan, udah ga tahan—he..he.. dan saat kami lama tak pernah bertemu seperti sekarang, jika kalimat ini kurasakan ku kira tak berlebihan, aku rindu dan SMS ini pelipurnya.
Tanggal 8 Juli 1991, tanggal saat aku di daftarkan Bapakku di SD N I Sukajaya Punduh, Pesawaran. Sejak hari senin itu aku resmi menjadi pelajar. Ini hal besar dalam hidupku, aku masih dapat merasa semangatku saat itu, bahkan semalaman aku tak dapat tidur nyenyak karena terus membayangkan mengenakan seragam merah-putih, bersepatu, memakai topi, (Aku merasa akan sangat cantik…) Dan akhirnya pagi itu datang dengan begitu pelan menurutku. Sekolahku jauh dari rumah—kata orang-orang kampungku kira-kira tiga setengah kilo meter—tapi sampai sekarang aku belum pernah mengukur jauhnya.
Sekolah ternyata menyenangkan, begitu kira-kira yang aku rasakan saat usiaku masih tujuh tahun. Banyak perlengkapan yang di belikan ibu untuk sekolahku, seragam, sepatu, topi, buku tulis, pensil, pengahapus. Jika ibu membelikan semua itu untukku, maka Bapakku membuatkan aku hanger kayu untuk seragam sekolahku, alasannya di pasar kampung kami ibu tak menemukan penjual hanger—sekarang tentu sudah banyak, karena telah banyak yang berubah dari kampungku-- Bapak membuatnya dua, tapi ketika aku pulang terakhir kemarin aku hanya menjumpai satu, entah ke mana satu lagi, meski satu hanger tak ada, atau suatu hari nanti hanger kayu buatan Bapakku lapuk dimakan waktu, tidak ada yang dapat menghapus kenangan di hatiku, kenangan tentang Bapak-Ibuku yang begitu mencintiku, begitu memperhatikan perlengkapan sekolah anaknya dan berusaha memberi yang terbaik dari apa yang Bapak-Ibuku miliki.
Selain hanger Bapakku juga membuatkan aku sebuah rak buku dua tingkat, rak buku sederhana itu masih ada hingga sekarang, dan di gunakan pula oleh kedua adikku, terakhir aku pulang, masih mendapati buku-buku SMP dan beberapa buku SD ku.
Terimakasih Bapak…
Terimakasih Ibu…
Entah bagaimana aku membalas cinta yang engkau beri, Sedang ridhomu adalah ridho Allah jua
Hujan, hujan, dan hujan lagi, beberapa hari terakhir memang hujan sedang in, pagi hujan, siang hujan dan malam juga hujan, tak kecuali minggu kemarin, sungguh jika tak ada acara aku lebih memilih tidak ke mana-mana, di mes dengan laptop lebih nyaman, tapi minggu kemarin aku memilih pergi ke acara resepsi pernikahan teman FLP, Agi dan Diana dan untuk kali kedua bendera FLP berkibar di acara pernikahan. Jika berfoto dengan teman-teman dekat mungkin biasa saja, tapi dengan bendera mungkin jarang terjadi di saat acara pesta, entahlah apa kata tamu-tamu yang lain, mereka menatap ganjil, jika boleh aku menduga banyak di antara mereka yang membatin atau bergumam lirih “ada-ada saja” , tapi bagi kami ini sebuah kekeluargaan dan kami menandainya.
Selamat untuk kalian berdua, semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Warahmah
Barakallahu laka wabaraka alaika wajama’a bainakumaa fii khoir….
Suka cita kami yang lain saat pesta kemarin adalah kami mengantri dan menikmati setiap pondokan yang di sediakan, mulai empek-empek, tekwan, puding , dan es cendol sebelum kami menyantap menu utama, bagiku ini kali pertama pesta yang mencicipi semua pondokan yang ada, mungkin karena bersama teman-teman dekat, jadi tak harus malu
Bagiku rumah adalah tempat yang paling nyaman, sehingga aku selalu merindukannya, Sebuah Desa kecil di lembah antara Bukit Takur dan Tanggang, Sidodadi, Punduh Pidada, Pesawaran. aku hampir hafal setiap sudut desaku, maklum dulunya ‘bolang’, ada tiga sungai berbatu yang mengalir melewati desaku—dulu, aku mandi, memancing, main arum jeram dengan pohon pisang di sini-- , tempat yang dulu aku biasa menggembala kambing, tempat aku mencari bekicot utuk di jual, tempat aku main betengan dan gobak sodor, tempat aku mencari buah seri, masjid tempatku mengaji. Semua aku masih mengingatnya.
Sekarang, saat aku pulang kemarin walau sebenarnya perubahannya perlahan semua sudah banyak berubah, sungaiku tak lagi deras dan sejernih dulu, tempatku menggembala kambing telah jadi rumah, dulu aku masih sanggup meghitung jumlah penduduk desaku, sekarang penduduknya bertambah pesat, bagaimana tidak teman yang dulu adalah kawan main kecilku, sudah banyak yang mempunyai dua anak, kalau kata ayahku “Tak menyangka Sidodadi jadi desa yang ramai, yang dulunya hanya di huni sembilan keluarga” Sembilan keluarga itu termasuk Ayah dan Ibuku, tentu saat pertama desaku diberi nama Sidodadi yang artinya Jadi terlaksana oleh sembilan kepala keluarga ini, aku belum lahir. Satu perubahan lagi, di desaku sekarang telah di bangun sebuah SD, insyaallah tahun ajaran ini mulai di buka pendaftarannya, sebuah kegembiraan tentu saja, jika dulu, aku SD harus berjalan kaki kira-kira tiga setengah kilo meter (ukuran orang kampung, aku sendiri belum pernah menghitung tepatnya berapa)sekarang SD sudah dekat.
Meski di desaku telah di bangun SD tapi SD yang ada di hatiku adalah SDN I Sukajaya Punduh, di sinilah segalanya bermula, bagaimana dulu aku menyebut kata hidup jadi hudip, di sinilah aku mempunyai banyak teman yang mayoritas bersuku Lampung, belajar menggunakan Bahasa Indonesia, sebelumnya tak pernah, percakapan kami sehari-hari bahasa daerah, untukku tentu bahasa Jawa, apakah kamu bisa bayangkan dua orang siswa kelas satu SD, satu Suku Jawa yang lainnya Lampung, berkomunikaasi dengan Bahasa Indonesia namun logatnya suku masing-masing, dengan malu-malu berkenalan? Aku masih menyimpannya rapi dalam ingatan, dan aku tersenyum setiap kali mengingat peristiwa sembilan belas tahun silam, lalu tahun-tahun berikutnya berlalu begitu cepatnya di sebuah gedung yang tak tersentuh renovasi sejak berdirinya, atap bocor, jendela tak berkaca lagi, tembok jebol, seingatku SDku juga pernah kebanjiran saat aku duduk di kelas empat. Namun kini sudah ada perbaikan, bahkan sudah ada TK sistem satu atap, sebuah kemajuan, semoga akan melahirkan generasi yang pandai.
Masih banyak sebenarnya yang tak sama antara waktu aku kecil dengan sekarang di desaku, terlalu banyak bahkan, tapi yang hampir sama adalah waktu tempuh antara Natar ke Sidodadi kira-kira dua jam, kemudian yang tak berubah adalah rute perjalanan, karena hanya melewati satu jalan, jalan yang kini berlubang-lubang, membuat perjalanan terasa melelahkan, namun demikian aku tidak akan pernah lelah untuk pulang, menemui orang-orang tercinta, ayah, ibu, segala kenangan dan untuk mencipta kenangan-kenangan berikutnya.