RUMUS: MENUNGGU tambah BETE dibagi SADAR BAHWA KITA MANUSIA sama dengan MAAF
CONTOH KASUS: Pernah punya janji untuk bertemu di suatu tempat pada jam yang telah disepakati? Saya kira hampir setiap kita pernah. Tentu punya janji sama dengan punya kewajiban, begitu aku merasa sore itu, tepatnya Rabu 12 Agustus 2009, kami sepakat untuk bertemu jam 19.00 di Bunderan Tugu Raden Intan, Lampung.
Pada hari itu aku bekerja hingga menjelang adzan magrib, maklum aku akan cuti untuk rencana kami itu, jadi kerja kejar tanyang untuk beberapa episode hari cuti besok, benar saja aku tiba di mes adzan telah usai, jam menunjukan pukul 18.15. Teeeppppppp! Mati lampu! Ukhhhhh sebel! Belum, mandi, packing dan yang tak kalah penting belum makan laper banget. Harus makan mau jalan jauh, ya ga jalan si.. wong mau ke solo mosok jalan.
Dengan penerangan lilin yang remang-remang, semua beres! mandi, packing, semua dikerjakan dengan tergesa dan agak asal-asalan, tapi tidak untuk makan, aku tetap baca bismillah, makan dengan tangan kanan dan duduk dengan baik. Belum selesai makan ada SMS masuk, ku tengok jam 19.05, waduh! Gawat teman-teman dah nunggu nih, pikirku. Tanpa pikir panjang aku sudahi makan malam hari itu, aku ambil jaket, menyandang tas dan menenteng ransel isi baju,
“Ayo, dek mereka sudah menunggu” ujarku pada adik yang mau mengantarku,
“iya Mbak, tapi bagus kita datang langsung berangkat daripada kita menunggu lama di sana” jawab adikku sambil mengambil kontak motor di atas lemari dan membantu membawakan ranselku.
“Iya, tapi ga enak membuat orang menunggu” begitu aku beralasan.
Sepanjang perjalanan aku membayangkan mereka berlima sudah menungguku dan memasang wajah kesal karena menunggu terlalu lama. maklum dari tempaku lama perjalanan 15 menit, berarti kira-kira aku membuat mereka menunggu selama duapuluh menitan. Ahh.. aku tau itu bukan waktu yang lama untuk sebuah film kesukaan yang kita tonton, tapi akan beda kalau duapuluh menit menunggu.
Aku merasa bersalah, kenapa tadi tak pulang kerja lebih awal, atau packing dari kemarin, ah selalu menyesal itu di belakang. Sejurus kemudian aku sudah mempunyai jalan keluar masalah ini, di otakku telah tersusun permintaan maaf yang begitu tulus from my deep heart
“Maaf telah membuat kalian menunggu, bukan maksudku begitu, tapi tadi magrib saja aku baru pulang kerja, ditambah belum packing dan mati lampu”
begitu aku akan berlasan sembari memasang wajah memelas dan mimik minta dimaafkan, mungkin di tambah dengan intonasi suara yang penuh rasa penyesalan. Aku berharap mereka memaafkan, karena aku tahu mereka –sahabat-sahabatku itu orang baik.
Seperti mengerti apa yang aku khawatirkan, adikku mempercepat laju motor yang kami tumpangi, kurang dari limabelas menit kami sudah sampai ditempat aku dan sahabat-sahabat baikku itu berjanji bertemu, dan aku benar-benar terkejut karena ternyata belum seorang pun dari kelima sahabatku itu yang sudah tiba di tempat itu, aku teringat SMS yang masuk saat aku makan tadi:
“Kalian di mana kalau sudah sampai, tunggu ya”
Begitu SMS dari teman yang kami tidak akan pergi tanpanya, karena dia yang menjemput kami dengan mobil kawannya.
Uhhhhhhhhhh, kurang panjang rasanya huruf H-nya untuk menggambarkan kekesalanku saat itu, lebih aku menunggu untuk beberapa lama, berdiri dan belum duduk sejak pulang kerja kecuali saat makan tadi. Satu rasa menyesal yang kurasa tak ada guna lagi yaitu, kenapa aku tak membaca SMS tadi, dan aku yakin SMS itu adalah pemberitahuan bahwa mereka telah menungguku.
Aku yang tadi sudah menyusun kata permintaan maaf, ternyata sahabat-sahabatku yang meminta maaf, berbagai pertanyaan bermunculan, apakah mereka juga merasa menyesal?, apakah kalimat permintaan maaf yang mereka ucapkan itu telah mereka rangkai sebelumnya sepertiku tadi? Apakah mereka juga baru pulang ke rumah ketika magrib? apakah mereka juga sangat ingin dimaafkan seperti aku tadi?
hmmmmm sebagai manusia aku tau mungkin mereka juga merasa tak enak seperti aku tadi, walau menunggu itu suatu hal yang tak bisa di bilang enak, aku memaafkan sahabat-sahabatku itu. *Angel mode on*
1. 05.00-07.00 Sarapan dan Persiapan
2. 07.00-08.00 Registrasi
a. Prof. DR. Suminto A. Suyuthi (Guru Besar FS UNY)
b. Helvy Tiana Rosa, S.S, M.Hum (Ketua Majelis Penulis FLP)
6. 13.00-16.00 Anugerah Pena, Launching 100 Buku dan Parade PenulisPembicara
Malam ini aku dapati bulan nan anggun retak seribu
Banyak luka bertabur debu-debu
Kemudin bulan jatuh di depan mataku
Hancur jadi puing-puing tajam
Aku mengambil sekeping yang berwarna merah jambu
‘kan kusimpan sampai saat kuceritakan
Kisah bulan pada lilin-lilin kecilku esok malam.
Natar, 27 Juli 2009
Kurangkaikan Sinar mentari hari ini
Dengan selaksa doa di sepertiga
gelap semalam, anakku
‘tuk hiasai ruang hatimu
kutambah pelangi pada satu sisi
selebihnya kau yang hiasi.
Natar,23 Juni 09
Ini adalah aku menurut mereka, Sahabat-sahabatku di FLP. Ini adalah surat kecil yang kuterima minggu 2 Agustus 2009 saat pertemuan Anggota dan pengurus FLP, acara kemarin tidak seperti pertemuan biasanya yang di penuhi materi dan latihan menulis, ataupun rapat untuk suatu kegiatan, pertemuan kemarin itu kami diberi secarik kertas kemudian saling menulis surat kecil untuk sahabat tentang kesan dan pesan kita padanya.
Dan ini adalah Kesan pesan mereka dalam surat kecil yang kuterima tanpa aku tambahi atau kurangi sedikit pun, bahkan gaya tulisannya aku ikuti, kemudian aku coba tanggapi dengan besar hati. seharusnya lebih banyak yang dateng jadi aku dapat suratnya jg banyak....:(
1. Kesan Pertama : Mb Ira tuh ramah, lucu, n dewasa tapi juga gak kaku2 amat
Pesan: Buat semua jadi lebih baik aja yach.
Komenku: ramah, tapi jangan salah terkadang aku juga judes, some time. Lucu….???? Benarkah, sidikit iya hanya biar tak kaku saja, wah kalau buat semua lebih baik, susah ya… tapi akan ku mulai dari diri ku sendiri tentu saja.
2. Kesan : - Ok2 AZACH!
-SERING GA SEIDE DG SAYA
Komenku: beda kepala beda idenya, tak pa beda ide, yang penting untuk kebaikan kita semua.
3.Mirip teman SMA, tp dunia kalian berbeda dunia
Komenku: “he..he.. ada ya yg mirip dg ku selain adik perempuanku, tapi emang dia ada di dunia mana ya???
4.Kesan: Pekerja Keras……..(Kayaknya ^_^)
Aktif
Pesan: Hpnya dikasih tali aja biar ga lupa lagi (he..he..)
Komenku: Pekerja Keras???? Ya untuk sesuatu yang aku impikan, walau terkandang aku ingin santai menikmati hari untukku sendiri.
Kalau HP, “just wanna say sorry” kalau SMS lama tak berbalas, dan panggilan tak terjawab, semata-mata bukan disengaja tapi…aku sering tak di samping HP tercintaku.
5. Kesan: Ramah, murah senyum, baek, dewasa..
Pesan: Terus tersenyum.
Komenku: Terimaksih-terimakasih.*kedua tangan menangkup di dada dan mengangguk beberapa kali sambil terus tersenyum*.
6. Aduh sebenarnya saya tidak suka disuruh menulis seperti ini, saya sulit menilai orang. Bagi saya jika orang itu baik pada saya maka dia adlah orang baik, termasuk juga mbak, Be your self ya mbak……..
Komenku: Thanks….. semoga nanti kita bias lebih kenal lg.
7. Komentar: Matang n Berwibawa
Saran: Be Your Self!
Komenku: Matang??? Kayak masak…. Berwibawa???? Begitukah menurutmu?
8. Mirip sama Adeknya…
Komenku: Adek yang mana nieh? Aku punya dua adek lho…
9. Orangnya baek, tapi gak kenal dekat he..he.., baek coz sering komen dib log, he..he..
Nb: Sering mampir dib log ya…
Komenku: Wah kalau aku ga komen di blog ga baik???? Tapi blog siapa ya???
10. Baik, dewasa,pelupa
Komenku: yakin aku baik??? Kalau dewasa, ya iyalah aku kan udah lewat 17 tahun, he..he.. nah lho pelupa??? Adakah janjiku yang belum aku tunaikan???
11. Kesan: Baik
Pesan: terimakasih ya mbak udah diingatkan!
Komenku: wah aku dah ngingetin paan ya? Yang mana?
12.Baik, ramah, pintar berkata-kata, tetaplah apa adanya…
Komenku: ya iyalah kita semua pandai berkata-kata, kan udah bias ngomong semua… he..he..
13. Kesan: -Dewasa tapi ternyata cengeng juga
-Galak dikit
-Tegas
-Baik
Pesan: - be wise
- be cool
- keep smiling
Komenku: Aku kan manusia juga boleh dung cengeng dan nangis dikit, *_* , duh aku galak ya, tapi terkadang butuh galak untuk kondisi tertentu, sepertinya aku tahu ini surat kecil siapa??? Baiklah jika aku harus terus tersenyum, biar ngimbangi galak.
14. Ok, elegan, keibuan
Komenku: jarang yang menyebutku elegan, tapi aku suka disebut keibuan,he..he..
15.–baik-murah senyum
Komenku: Singkat sekali surat kecilmu, sarannya belum??
16. -Mbak Ira biasa, dirimu berbakat lho, mbak
-Ingat, Novelmu kapan muncul?
-Dengan Kerjasama akan memudahkan, bisakah LPJ dikerjakan bersama?
-Kita sangat jarang berkata, “Ah…Sudahlah…”
Komenku: Terimaksih diingatkan tentang novel itu. Tidak mudah bagiku menyelesaikannya, tapi akan aku coba, LPJ???? Baiklah…..! Sudahlah! He..he..
17.Baik, dewasa, cepet merit ya ^_^
18.Baik, cepet bertemu dg belahan jiwa, Pesan: ntar lebaran silatuhami ke rumah ya!
19.Baik, Murah senyum
Pesan : Get Merried ya..
Komenku: “Wah 17,18,19 bila sudah tiba waktuku dan semua akan indah pada saatnya”
Menjadi bagian FLP (Forum Lingkar Pena) wilayah lampung adalah hal baik yang pernah aku miliki dalam hidup, bagaimana tidak, di FLP aku miliki teman-teman yang luar biasa, mereka seniman-seniman kata yang sedang mengejar mimpi, di FLP pula aku banyak belajar tetang menulis, dan hal yang tidak bisa dikatakan tidak beruntung adalah berkumpul dengan teman sehobi, tentu masih ada bonus-bonus lain, perhatian mereka, setidaknya bertambah lagi teman yang mengucapkan selamat saat ulang tahun, atau bertambah lagi tempat untuk mengadu saat duka singgah di hati, dan hal kecil yang aku senangi, aku bisa berkirim SMS puisi ke teman-temanku itu, bisa dibayangkan jika SMS puisi ke orang yang tidak menggemari puisi, tanggapannya pasti “apa-apaan ini orang, ngomong tidak jelas” kira-kira begitu atau kalimat-kalimat semacamnya, masih banyak lagi tapi pastinya masih senada, tentu masih banyak hal yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Satu lagi pengalaman pertamaku, Bubur Sumsum Party, kalau makan bubur sumsum sudah pernah, tentu berbeda jika bubur di jadikan icon sebuah pesta. Pesta ini berawal dari ide Mbak Laela Awalia saat kami selesai mengadakan pelatihan menulis Skenario bersama Ekky Imanjaya, Redaktur Rumah Film Jakarta yang di lanjutkan dengan Pelatihan Puisi yang diisi oleh Bang Ari Pahala Hutabaran dari Dewan Kesenian Lampung, kemudian Pelatihan Esay dengan Pemateri Joendra, Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia. Acara yang dibanjiri Doorprize berupa buku-buku dari Penerbit yang mendukung acara itu antara lain, Penerbit NALAR, LPPH (Lingkar Pena Publishing House).Rangkaian acara dua hari itu kami namai “LAPUNG MENULIS” Jumlah peserta Pelatihan Sekenario yang mencapai 50 orang termasuk calon Anggota 13 Orang, adalah hal yang di luar perkiraan sekaligus menggembirakan bagi kami panitia, tentu kesuksesan ini tidak terlepas dari tim yang melakukan publikasi sampai ke Lampung Timur dan Metro, dan dibantu oleh Radio MQ FM 98,3 FM.
Sementara Pelatihan Puisi dan Esai yang didesain khusus untuk calon anggota muda FLP juga kalah seru, pelatihan ini adalah sambutan sekaligus pembekalan kepada calon anggota, harapannya acara tersebut dapat memberi motivasi kepada calon anggota dan kelak anggota-anggota FLP dapat menghasilkan karya yang dapat memberi pencerahan.
Kembali ke Bubur Sumsum Party, kata Mak Lia, ini seperti tradisi etnik Jawa yang setelah adanya hajatan mereka membuat bubur sumsum dan makan rame-rame, begitu pula kami setelah gelaran “LAMPUNG MENULIS” yang memang kami menganggapnya adalah hajatan FLP telah usai, tak ada salahnya kami membuat acara itu, selain untuk silatuhami, pada “party” itu kami bisa saling bermaafan, mungkin selama proses persiapan hingga pelaksanaan “LAMPUNG MENULIS” ada perasaan yang tidak nyaman atau ada yang merasa terlukai oleh tutur dan sikap satu sama lain, semoga itu semua sudah diikhlaskan, walau ada yang disayangkan pada acara Bubur Party tersebut tak semua Panitia dapat hadir karena agenda mereka masing-masing. Semoga lain waktu acara FLP lebih baik lagi dan untuk FLPers lebih kompak, lebih semangat dan ayo terus Menulis, menulis,menulis,menulis, wujudkan i tema kegiatan “LAMPUNG MENULIS” satu kata, ubah dunia….