Hatiku menggerimis, basah,
Pilu mengetuk-mengetuk dinding palung harap,
Rinduku sudah habis, menyusut bahkan menguap
Tinggal serpih-serpih yang tersangkut sarang laba-laba ruang hampa
di bilik sepi, pada malam-malam panjang berikutnya
di mana bintang gemitang terus menari di pelupuk mataku
mereka bercerita tentang kesejateraan dan kemakmuran
di negeri angkasa biru
sedang mereka masih terus bercerita tentang rencana
dalam janji yang itu-itu lagi.
Ahh bosan!
Telah ku hidupkan tungku do’a, sejak subuh tadi
Kumasak semangat pada bejana hati
Ku tambahkan bumbu yang diambil dari luka-luka lalu
Tersajilah di meja makan pagi ini
Sepotong hangat semangat bertabur manis harap.
Pada siang yang matahari-Nya siap memeluk mimpi
dan burung-burung gelatik hinggap bisu pada ranting-ranting tanpa daun
ku kabarkan padamu,
“rinduku tak lekas lalu”
Mungkin karena aku masih selalu melewati danau hijau itu
Tempat aku minum, menebus dahaga ilmu,
sekali waktu kau pernah berujar
“lekaslah memancing ikan-ikan kecil untuk bekal diri”
Atau karena mimpi ditidurku yang sedikit,
Setelah kunang-kunang menyulam malam di pelupuk mata
Entahlah…..
Tapi aku tak pernah duduk di tempat ku dulu,
Waktu takkan sanggup bawaku ke sana,
Aku hanya memandang pohon yang kian tinggi, tanpa daun apalagi buah
“Rasanya nyeri karena terlalu rindu”
Tunggu aku, bila masa nanti membawaku kembali ke danau hijau itu
Akan ku kabarkan pada tunas-tunas kecil yang kian tumbuh di sana
“Bahwa di danau itu ada cintaku yang biru”
Natar,11/03/09
Rinduku sudah habis,
menguap..
Tuntas,
Tinggal serpih-serpih yang tersangkut sarang laba-laba ruang hampa
di bilik sepi, pada malam-malam panjang berikutnya
di mana bintang gemitang terus menari di pelupuk mataku
mereka bercerita tentang kemesraan
di negeri angkasa biru
yang tak layu oleh bayu
yang tak hilang oleh deru waktu
oleh hujan pun matahari
kelamnya malam tak juga mengkaramkan rasi bintang
Saat hujan meraka terguyur
Tapi tidak basah.
Oleh terik mentari pun mereka terjemur
Tapi tak kering meranggas
Bahkan saat malam mulai gelap
Mereka benar-benar mengerti
Saat itu harus memberi cahaya paling terang
Agar sanggup melihat buramnya malam
Agar tidak kehilangan, satu dan satunya lagi.
Agar malam berwarna meski tak seterang siang
Agar malam indah walau tak seperti pelangi usai hujan
Malam ini pun mereka masih merenda rindu
Seperti malam-malam sebelumnya.
Hatiku menggerimis
Pilu mengetuk-mengetuk dinding palung rasa, nyeri
Saat kutemukan sehelai rambut
Pada bantal tidurmu
Ternyata rindu itu masih ada
Mungkin yang tersangkut di sarang laba-laba ruang hampa
Atau yang tertinggal di bilik sepi
Tapi di hati yang merah, rindu tertindih amarah.
Natar,06/03/09
Musim dingin terlalu lama
Hingga kuncup beku, berselimut salju
Bahkan daun telah berguguran
Dan ranting kaku sendirian
Dimana kau, matahari?
Sedang ranting kian menggigil
Masihkah terbit di timur esok pagi?
Tapi hingga sore kau masih tertidur
Di barat pun kau tak muncul
Hari berlalu, musim berganti
Musim semi tlah kembali
Matahari ranum menyapa lagi
Tersenyum hangat pada pohon dan pucuk hijau
Kini, bunga warna-warni bermekaran.
Natar, Januari 09
“R” huruf yang terkadang orang Indonesia tidak dapat melafalkannya dengan benar, biasanya mereka di juluki cadel, termasuk aku. Pada awalnya aku sedih menyadari tak dapat menyebut huruf ke 18 di jajaran Alphabet itu. Kata orang-orang lidahku pendek.
Banyak temanku yang sering mengolok, tentu aku sedih bahkan menangis. Aku ingat aku terakhir menangis karena hal ini adalah kelas tiga SPM. Ah, cengeng sekali aku. Namun sekarang aku tak mempedulikan orang-orang yang suka meledekku, anggap saja mereka memperhatikan aku.
Banyak kenangan yang kuingat dengan ketidakmampuanku menyebut huruf yang sering di eja dengan “Romeo” itu. Kata salah satu teman SMPku “ketika Tuhan mebagikan alphabet sampai “Q” aku sudah pergi karena dikira sudah selesai, pas aku balik lagi sudah ke huruf “S”. aku tersenyum dan membiarkan mereka mengarang cerita untukku.
Ada lagi yang membuatku lebih tersenyum lebar, ketika ponakan ibu banyak yang datang selaturahim Idul fitri, tentu mereka datang dengan balita-balita yang lucu sekaligus nakal. Di mana-di mana anak adalah kebanggaan bagi orang tuanya, jadilah ponakan-ponakan ibu bercerita kehebatan anaknya, ponakan yang satu bilang si A itu ngomongnya sudah lancar tapi jalan belakangan, yang satu lagi cerita kalau anak bungsunya jalan duluan baru bisa manggil ibu. Eh ibuku dari dapur ikut membanggakan putri sulungnya yang tak lain tak bukan adalah aku. “Kalau si dia ini belum sampai satu tahun dah jalan tapi… tapi sampai sekarang belum lancar menyebut semua huruf” Ruang tamu seketika riuh oleh tawa. Ibuku, ibuku…aku tersenyum.
Sekarang aku menikmati setiap lelucon huruf “R” ku yang tidak jelas itu. Kejadian di kantor lebih seru lagi, mereka sama dengan teman sekolah ataupun kuliah, mereka suka bercanda dan menyuruhku menyebut kalimat yang berujung huruf aneh itu. Misalnya “pagar rumah warna merah”, namun aku harus mengakui karena mereka pula aku jadi kreatif, memanggil nama orang mencari penggalan untuk menghindari kata yang mengandung huruf R, atau mencari persamaan kata misalnya:
- Turun = Ke bawah
- Ngeprint = Nyetak
- Dibicarakan = Dibahas
- Kamar mandi = Toilet/Wc (Water Close)
- Ruangan = Tempat
- Parau = sengau
Ada yang punya saran untukku agar tidak melafalkan Huruf itu?
Duduk
Resah
Berdiri
Payah
Berjalan
Patah
Akibat Hati
Kurang Berserah