Author: ira
•1:05 AM

Pada lembar-lembar catatan hati
Kusebut kau ; Cinta

Cinta
serupa embun mencintai dedaun
lalu sinar mentari meniadakannya
embun pergi bersama bias pelangi

Cinta
serupa tulusnya angin pada udara
memberi sejuk, tanpa menunjukan rupa

Cinta
Serupa setianya mentari menanti fajar
Takkan pernah terlambat memberi sinar


Cinta
Serupa rindunya bintang pada malam
Menggantikan berjaga, hingga saat fajar
Dan embun kembali membasahi dedaun.

Selengkapnya..
Author: ira
•3:01 AM


Judul Buku : Pengantin Baru
Penulis : Ari Nur
Penerbit : Fren_ari
Tebal Halaman : 188 Halaman
Harga : Rp. 30.000,-




Inda : “Ada tentara tujuh, mati satu tinggal berapa mas?”
Bagas : “Masih seribu enam kan!” jawab Bagas yakin.
Inda : “Kok, tahu sih”
Bagas : “Iya, kan mati satu tumbuh seribu”

Begitulah kelucuan sepasang pengantin baru, Bagas dan Inda dalam novel ketiga karya Ari nur ini dan masih banyak cerita yang lebih lucu lainnya dalam setiap hari yang dilewati setelah mereka menikah.

Pernah jadi pengantin baru? Menjelang jadi pengantin Baru? Bercita-cita jadi pengantin baru? So, Baca buku karangan Ari Nur ini pasti membuat Anda mesam-mesem, seyum simpul, sampai ketawa besar (baca ketawa cekikikan), lalu yang sudah menjadi pengantin baru merasa, aku banget! Yang menjelang dan bercita-cita jadi pengantin baru, “ O begitu tho?”

Sebuah kondisi awal pernikahan yang penuh cerita, penuh pengalaman baru tentu saja, dikemas dengan apik dalam nuasa humor islami dengan bahasa keseharian yang ringan, mulai dari Ta’aruf , pesta penikahan, mencari rumah idaman –Rumahku, surgaku-- barisan mantan atau orang yang dulu ditaksir tiba-tiba muncul setelah janji suci terpatri, proses kehamilan dan melahirkan, problematika wanita kantoran yang jadi ibu baru, perjuangan untuk membuka usaha mandiri. Semua kisah di kemas secara kocak yang mengundang gelak tawa namun tetap sarat pelajaran dan yang pasti dapat menjadi bacaan alternatif untuk menghilangkan penat.

Setelah membaca buku ini, saya merasa seperti apapun hidup ini tetap menyediakan ruang bagi kita untuk bahagia dengan syarat kita harus bersyukur. Syukur bukan dalam arti nrimo apa adanya melainkan, tetap berusaha secara maksimal, berdo’a secara maksimal, kemudian menerima hasil usaha dan doa itu dengan ikhlas, itulah syukur.

Selengkapnya..
Author: ira
•5:41 PM





Saat kecil aku miliki teman bermain, mungkin saat itu aku belum pernah mendengar kata sahabat, karena aku menyebut temanku dalam bahasa jawa –konco-- yang artinya teman. tapi sejatinya ia adalah sahabat, aku tahu itu, karena saat ia pindah rumah tak terbendung air mataku menyambut jabat tangan terakhirnya, saat itu aku belum sekolah, kira-kira usiaku lima tahun, tapi aku merasa bahwa kami akan berpisah, kami tidak akan bermain bersama lagi, menangkap capung saat mendekati adzan magrib di pelataran rumah, kabur diam-diam dari ibu kami masing-masing untuk main hujan dipancuran air, atau pergi mengaji bersama lagi, dan aku tak ingin perpisahan itu terjadi.

--apa kau tahu rasa di hatiku saat itu? Nyeri, berdesir, sedih, rasa kehilangan, lalu saat ku susut air mata dengan punggung tangan, ku hela nafas dalam-dalam, saat ku tatap wajah sahabatku, ku lihat gurat kehilangan pada tatapan mata yang bekaca-kaca, senyum tipis mengembang di bibirnya, seolah dia berpesan, “lain waktu, entah kapan, jika kita dewasa nanti, kita akan jumpa lagi, kawan” lalu rasa itu hadir lagi lebih kuat beberapa kali lipat--

Aku memeluk boneka berdiri merapat di samping ibuku, tak ada kata yang aku ucapkan, hanya Bapak dan ibuku yang masih terus berbincang dengan Ayah dan Ibu sahabatku, mungkinkah para orang tua kami tahu apa yang kami rasakan, apa mungkin mereka juga merasakan hal yang sama?

Aku memperhatikan sahabatku naik mobil bersama Ayah ibunya, saat ia telah duduk di dalam kepalanya keluar dari kaca jendela mobil yang dibuka lebar, lalu ia melambaikan tangan, ku balas lambai tangannya dan jarak akhirnya mengembang, kini aku benar-benar merasa kehilangan. Selamat Jalan Sahabat, lirihku sedih, dan sampai kisah ini ku tulis aku belum pernah bertemu sahabat kecilku ini.

***

Sahabat adalah orang yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi tempat berbagi dalam hidup kita.Dialah orang yang memiliki rumus matematika ajaib, karena seorang sahabat mampu menambah suka cita, mengurangi duka, melipatgandakan semangat dan membagi kesedihan, sungguh rumus yang hanya dimiliki sahabat.

Setiap fase perjalan hidupku aku menemui sahabat yang luar biasa, setiap hal menjadi lebih menarik, lebih berwarna, dan lebih mengesankan ketika ada sahabat disetiap hal yang ku lewati, tak jarang kebahagian menjadi begitu mengharu biru, saat sebuah masalah dapat aku lewati berkat motivasi dan semangat yang diberikan seorang sahabat, dan yang sering tak dapat kulupakan adalah masalah pada masa yang lewat adalah lelucon, tak terasa getirnya sama sekali, walau tak melupakan pelajarannya.

Aku pernah mendengar sebuah ucapan bijak,--Sahabat adalah orang yang menggambarkan diri kita yang terangnya melebihi terangnya siang— menurutku ucapan bijak ini benar, karena biasanya seseorang akan mengikuti perbuatan sahabatnya, karenanya menjadi orang yang pemilih dalam hal sahabat ku kira bukan hal buruk.

Selengkapnya..
Author: ira
•12:23 AM


Alhamdulillah, Menang! Begitu hatiku besorak pun bersyukur. Sebenarnya aku sudah kehilangan harapan, pasalnya resensi “Paris Lumiere de l’Amour: Catatan Cinta dari Negeri Eifel” yang kukirim ke alamat email LPPH (Lingkar Pena Publishing House) tidak sampai, mungkin karena alamat emailnya salah atau kurang lengkap. Ya sudahlah, lirihku saat membaca pengumuman daftar nama pengirim resensi dan namaku tidak ada. Aku kecewa.

Seperti biasa setiap kali aku gagal melalukan atau meraih sesuatu aku selalu yakin dengan ungkapan “Jangan menatap pintu tertutup itu berlama-lama, nanti tidak dapat melihat pintu lain yang masih terbuka.” Oleh karena itu tidak ku biarkan kecewa itu berlama-lama, maka ketika Mbak Rosita –Penulis Buku yang diresensi—mengumumkan lomba susulan, walau hadiahnya tak “seWAH” lomba utama aku langsung mengirimkan lagi resensiku, kali ini aku lebih teliti memasukan alamat emailnya.

Akhirnya obat kecewa itu ada. Kemarin (14 Desember 2009) entah siapa yang membisiki aku coba mencari nama ku di Google dan muncul :

Famille Monlouis - Sihombing - Diary Online
Ira Sudiharjo, Resensinya ada di SITU. 2. Leila, Resensi-nya di SANA. (Masing-masing mendapat magnet kulkas, koin kuning Eiffel,dan post card) http://sikrit.multiply.com/journal?&page_start=0


Tanpa berpikir panjang aku klik link tesebut, aku dapati namaku dan aku tersenyum, Alhamdulillah. Merci Mbak Rosita --Nyoba berterimaksih dengan bahasa Prancis)-- siapa tau suatu hari nanti dapat menginjakan kaki ke negeri Napoleon nan indah itu.

Selengkapnya..
Author: ira
•5:10 PM


Mentari menutup mata, malam meraja
Sementara hatiku berdegup
mengeja kata rindu
meraba rasa yang tiada tentu


Aku berharap denting dawai hujan malam ini
untuk menghapus dua jejak hari kemarin
namun hujan masih mendung
maka kutitip resah pada angin yang mengayun dedaun

Selengkapnya..
Author: ira
•8:48 PM


(Hari pertama melamar kerja)


Sesungguhnya setelah makan siang kemarin 3 December 2009 aku ingin segera kembali ke kantor, tapi sebuah topik pembicaraan telah mengundang tawa diantara kami, bukan gosip tentu saja, ini cerita hari pertama kami berinteraksi dengan karyawan lama tempat kami bekerja sekarang.

“Seorang staff Accounting, mengatakan: “Pada pagi hari sabtu aku datang mengantarkan berkas lamaran ke HRD, Siang harinya aku ditelepon Manajer HRD untuk datang mengikuti tes tertulis Besok. Hari minggu – sehari sesudah aku ditelepon HRD -- aku datang ke kantor dan mendapati seorang OB sedang membersihkan kantor, kemudian aku bertanya, “Apakah ada tes hari ini?” si OB menjawab “Biasanya ada tapi hari kerja, bukan hari minggu” begitu jawabnya. Setelah menunggu beberapa lama aku memutuskan pulang, dan pada hari seninnya aku datang kembali dan benar saja banyak yang akan mengikuti tes tertulis”
(Terlalu bersemangat, emangnya PNS tesnya hari minggu?)
< class = "full post">
Ceritaku juga kurang sedap waktu pertama kali melamar kerja walau tak semalang temanku yang staff accounting itu, hari itu aku datang ke kantor dan bertemu seorang satpam, aku telah mengatakan kepada satpam tersebut bahwa aku telah janji untuk bertemu dengan manajer HRD, tapi si satpam mengatakan si Manajer sedang Meetting, satpam meminta berkas lamaranku agar dititip saja, aku menyerah dan memilih pulang. Aku hampir tiba di kostanku, aku di telepon oleh manajer HRD. Aku diminta untuk kembali ke kantor untuk tes tertulis. Kesal sekali aku dengan satpan itu, akhirnya aku kembali ke kantor lagi. Jadilah hari itu aku delapan kali naik angkot karena 2 kali pulang pergi dari kostan ke kantor itu dua kali naik angkot.
(Wah rugi abangnya)

Lain cerita temanku, lain ceritaku maka lain lagi cerita staff IT (Information Technology), ia bertutur, “Seperti pencaker (Para pencari Kerja) umumnya hari itu aku mengenakan pakaian terbaik dengan sepatu mengkilap habis, aku berangkat dari rumah di Teluk Betung Bandar Lampung menuju Natar Lampung selatan, lumayan jauh, tiba di tengah jalan hujan turun deras dan aku tidak membawa jas hujan, karena sudah janji pada jam itu aku menerobos hujan. Aku tiba juga di kantor dengan keadaan basah kuyup. Seorang sales counter menghampiriku sembari menatap heran karena di sekitar kantor panas terang benderang. “Mau bertemu siapa Pak?” begitu sapanya. Aku mengaku ingin menemui manajer accouting untuk menyampaikan contoh aplikasi yang telah aku buat.
“Boleh dititipkan kepada saya nanti saya sampaikan” begitu sarannya masih dengan tatapan heran.
“Jika Mbak bisa mengoperasikan sistem yang saya buat tidak mengapa” begitu aku bertahan ingin bertemu manajer accounting itu.
“Ya, sudah tunggu sebentar” akhirnya sales counter menyerah.
Aku berhasil presentasi dengan keadaan basah di ruangan ber-AC. Brrrrrruuuurr dwingiin!
(Selamat ya, sungguh perjuangan yang mengharukan!)

Satu jam tetap dinanti, itulah waktu istirahat, termasuk aku. < /span >

Selengkapnya..
Author: ira
•2:26 AM


Pelangi, entah berapa lama aku habiskan waktu menanti lengkungan balok warna-warni, merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu. Aku akan sabar menantinya, karena sekarang musim kemarau, dan tidak ada pelangi saat kemarau. Aku tahu benar itu, karena pelangi baru muncul seusai hujan turun.

Pada sore yang yang langitnya jingga, dan angin pun tenang, awan telah menjadi mendung, pekat sangat, sedang matahari mengintip merah dibalik cakrawala. Aku berharap hujan turun cepat, sebelum gelap.

Hujan riang, menyapa alam, mengoda debu, berjinjit di atap, membasahi batu, tapi hujan turun terlambat, malam telah merapatkan selimutnya. Dunia telah tidur lelap. Aku mengintip ke luar jendela dari kamarku yang senyap, tak ada bintang, tak ada bulan, apa lagi pelangi, aku tahu kini pelangi juga tak muncul malam hari, dan aku kecewa.

Selengkapnya..