“Karena aku pernah mengenalnya, pernah menjadi adik kelas, pernah bekerjasama, dan aku merasa miliki seorang kakak yang senang bila ia ada, yang aku tak mungkin lupa gurauannya “tak GOCO”, oleh karena kini aku merasa akan kehilangan”
Begitu SMS yang ku kirim untuk temanku yang resign dari kantor pada malam hari sebelum hari H perpisahan itu terjadi. Pagi harinya pada akhir Juni lalu, telah kuputuskan aku tidak akan menangis, semoga kami akan bertemu pada kesempatan lain dengan keadaan yang lebih baik dari pertemuan pertama, saat ia menjadi kakak kelas ku di SMK I Bandar Lampung, dan pertemuan kedua saat ia menjadi Staf di NPG, tempat kami bekerja.
Percuma, walau aku sudah bertekad tidak akan menangis, nyatanya air mata itu rembes juga, saat ia berujar “Maafin salahku ya, Mbak” begitu ucapnya. Kami berjabat tangan dan sedihku luruh, kami berpeluk sejenak, “aku juga” begitu jawabku di antara isak.
Begitulah kehidupan ini, selau berjalan maju, tidak pernah ada tawaran untuk berhenti apalagi mundur, dan NPG, tempatku bekerja seolah rangkaian kereta yang yang mengantarkan kami pada tujuan kami masing-masing.
Kami duduk pada gerbong, kursi yang berbeda, sesuai dengan fungsi dan tugas kami, sama seperti penumpang kreta yang duduk sesuai tiket yang mereka beli, hanya saja kami tidak saling acuh tak acuh, kami saling membutuhkan, kami saling menyayangi dan menghormati, oleh karena ada rasa kehilangan saat salah satu dari kami telah sampai pada tujuannya.
Sejak semula memang tujuan hidup kami berbeda-beda, maka kami akan bertemu dan berpisah di tempat yang berbeda. Satu penumpang Kreta NPG telah sampai di stasiun tujuannya, dia akan turun, meninggalkan kami yang akan melanjutkan perjalanan masih dengan menumpang Kreta NPG, menuju stasiun kami masing-masing.
Selamat jalan Sobat…
Semoga jalan berikutnya, kendaraan berikutnya lebih baik dari jalan dan rel NPG,
Aku belum sampai distasiunku.
Hidup memang terus maju, Kemarin telah usai, esok belum tentu datang yang dimiliki hanya waktu saat ini, dan pasti setiap awal ada akhirnya, setiap perjumpaan ada perpisahan, oleh karenanya aku hanya ingin kerjakan sesuatu saat ini dengan cara terbaik, sayangi kerabat dengan cara terbaik, dan tentu persiapkan perpisahan yang sebenarnya dengan sepenuh hati.
Ku mohon pada-Mu "Kesabaran yang sanggup menanti lengkung pelangi usai hujan"
Hatiku menggerimis, basah,
Pilu mengetuk-mengetuk dinding palung harap,
Rinduku sudah habis, menyusut bahkan menguap
Tinggal serpih-serpih yang tersangkut sarang laba-laba ruang hampa
di bilik sepi, pada malam-malam panjang berikutnya
di mana bintang gemitang terus menari di pelupuk mataku
mereka bercerita tentang kesejateraan dan kemakmuran
di negeri angkasa biru
sedang mereka masih terus bercerita tentang rencana
dalam janji yang itu-itu lagi.
Ahh bosan!
Telah ku hidupkan tungku do’a, sejak subuh tadi
Kumasak semangat pada bejana hati
Ku tambahkan bumbu yang diambil dari luka-luka lalu
Tersajilah di meja makan pagi ini
Sepotong hangat semangat bertabur manis harap.
Pada siang yang matahari-Nya siap memeluk mimpi
dan burung-burung gelatik hinggap bisu pada ranting-ranting tanpa daun
ku kabarkan padamu,
“rinduku tak lekas lalu”
Mungkin karena aku masih selalu melewati danau hijau itu
Tempat aku minum, menebus dahaga ilmu,
sekali waktu kau pernah berujar
“lekaslah memancing ikan-ikan kecil untuk bekal diri”
Atau karena mimpi ditidurku yang sedikit,
Setelah kunang-kunang menyulam malam di pelupuk mata
Entahlah…..
Tapi aku tak pernah duduk di tempat ku dulu,
Waktu takkan sanggup bawaku ke sana,
Aku hanya memandang pohon yang kian tinggi, tanpa daun apalagi buah
“Rasanya nyeri karena terlalu rindu”
Tunggu aku, bila masa nanti membawaku kembali ke danau hijau itu
Akan ku kabarkan pada tunas-tunas kecil yang kian tumbuh di sana
“Bahwa di danau itu ada cintaku yang biru”
Natar,11/03/09
Rinduku sudah habis,
menguap..
Tuntas,
Tinggal serpih-serpih yang tersangkut sarang laba-laba ruang hampa
di bilik sepi, pada malam-malam panjang berikutnya
di mana bintang gemitang terus menari di pelupuk mataku
mereka bercerita tentang kemesraan
di negeri angkasa biru
yang tak layu oleh bayu
yang tak hilang oleh deru waktu
oleh hujan pun matahari
kelamnya malam tak juga mengkaramkan rasi bintang
Saat hujan meraka terguyur
Tapi tidak basah.
Oleh terik mentari pun mereka terjemur
Tapi tak kering meranggas
Bahkan saat malam mulai gelap
Mereka benar-benar mengerti
Saat itu harus memberi cahaya paling terang
Agar sanggup melihat buramnya malam
Agar tidak kehilangan, satu dan satunya lagi.
Agar malam berwarna meski tak seterang siang
Agar malam indah walau tak seperti pelangi usai hujan
Malam ini pun mereka masih merenda rindu
Seperti malam-malam sebelumnya.
Hatiku menggerimis
Pilu mengetuk-mengetuk dinding palung rasa, nyeri
Saat kutemukan sehelai rambut
Pada bantal tidurmu
Ternyata rindu itu masih ada
Mungkin yang tersangkut di sarang laba-laba ruang hampa
Atau yang tertinggal di bilik sepi
Tapi di hati yang merah, rindu tertindih amarah.
Natar,06/03/09
Musim dingin terlalu lama
Hingga kuncup beku, berselimut salju
Bahkan daun telah berguguran
Dan ranting kaku sendirian
Dimana kau, matahari?
Sedang ranting kian menggigil
Masihkah terbit di timur esok pagi?
Tapi hingga sore kau masih tertidur
Di barat pun kau tak muncul
Hari berlalu, musim berganti
Musim semi tlah kembali
Matahari ranum menyapa lagi
Tersenyum hangat pada pohon dan pucuk hijau
Kini, bunga warna-warni bermekaran.
Natar, Januari 09