Author: ira
•1:30 AM

Inilah rumah tua

Tembok retak seribu
Penuh coret moret anak jalanan tak menimba ilmu
Di sekolah pada guru dan suhu

Tiang depan rumah condong ke bumi
Persis orang mabuk diiring wanita cantik nan seksi

Plafon terlepas dari pilarnya
Tiada menentu melambai-lambai
Serupa dasi pejabat dikibar angin sepoi
Sekiranya pulau dewata pilihan tempat rapat

Dasar penghuni tak berguna
Bukankah rumah itu dibangun susah payah oleh ayah?
Semestinya engkau setia pada janji.
Seperti pengemis yang datang setiap pagi
Menadahkan wadah berharap sedekah
Kasihan sekali dia.
Rumah tua tak memberi apa-apa.

Tak ada lagi anyelir, melati
Di buritan dekat kolam
Hanya seonggok sampah busuk
Dan comberan biru

Tapi rumput teki, rapi
Di sudut halaman ini adalah sedikit bukti
Engkau pernah mencintai rumah tua
Sepenuh hati

Selengkapnya..
Author: ira
•1:28 AM

Aku belajar pada kecewa
Tentang warna
Sesekali jingga, ungu, kelabu
Hitam kemudian putih
Silih bergilir
Datang berganti

Aku belajar pada luka
Tentang sebuah jalan
Terkadang lurus, berkelok, terjal
Menanjak pun menurun
Bersambung, tak terputus
Satu-satu terlewati
Sebuah lintasan diri.

Selengkapnya..
Author: ira
•1:27 AM

Samudra luas pun bertepi
Ku mohon ya Allah…….
Agar hati kecil ini tak berbatas

Jika memandang langit hebat pemayung bumi
Berbatas cakrawala
Ku mohon ya Allah……..
Mata sanubari dapat memandang kehidupan
Hingga awan tersibak
Dan langit menjadi indah dengan pesona biru-Mu

Selengkapnya..
Author: ira
•9:45 PM

SD (Sekolah Dasar) ku dulu di kecamatan Punduh Pedada memang tak semiskin SD Muhammadiyah di Film Kondang Laskar Pelangi, sedikit lebih beruntung. Bangunannya bukan papan, tapi gedung tua yang tak tersentuh renovasi sejak pendiriannya, tentu saja jendela kaca telah banyak yang pecah dan bocor di mana-mana.

Keadaan siswanya pun sangat jauh berbeda dengan SD Muhammadiyah yang hanya 10 siswa. Di SD ku setiap angkatan menerima lebih dari 60 siswa. Ramai habis! Sampai guru kelas kewalahan buat ngatur kami saat itu.

Satu persamaan kami dengan para tokoh Laskar Pelangi adalah Kami juga memiliki mimpi. Walau mimpi kami terkadang terdengar ngawur dan asbun (asal bunyi). Suatu hari guru kelas satu ku menanyakan cita-cita kami, dengan antusias kami menjawab ada yang mau jadi dokter, perawat, guru, pengusaha bahkan artis dan tak seorang pun yang ingin jadi petani atau nelayan seperti kebanyakan orang tua kami.

Cita-cita yang mulia, tapi tidak mudah bagi guru mengantarkan kami menuju cita-cita, lah… membaca saja kami tidak bisa bahkan ada yang belum mengerti bentuk huruf alphabet. Ini berlangsung dalam waktu yang lama sampai hampir semester pertama kelas satu. Selain kurang maksimal pengajaran di sekolah ditambah kurang perhatian orang tua.

Satu hal yang tak ku lupa hingga kini, cara guru kelas satuku mengajarkan membaca, mula-mula beliau mengunting huruf alphabet satu-satu, kemudian dia menaruh guntingan alphabet ke dalam kotak kapur. Setiap lonceng pulang berbunyi kami belum boleh keluar kelas sebelum mengambil huruf di kotak kapur dan menyebutkannya. Tentu mengambilnya bergilir tidak boleh melihat. Jika benar kami boleh pulang jika tidak kami duduk kembali.

Jika ingin cepat pulang tentu kami harus belajar keras di rumah, rupanya cara ini mempunyai efek yang positif bagi kami, kami jadi rajin belajar membaca, bahkan yang biasanya kamu bermain jam istirahat kami belajar membaca.

Pada awalnya hanya satu huruf yang di taruh di dalam kotak kapur, kemudian guruku menggabungkan satu huruf vocal dan konsonan. Terus bertambah menjadi satu kata pendek lalu panjang. Pada akhirnya satu kalimat sempurna lengkap dengan S-P-O-K (Subjek-Predikat-Objek-Keterangan)

Sungguh cara yang unik.


Kepada Bp. Sudarminto terimakasih yang tak terhingga, terimakasih A-B-C nya.

Selengkapnya..
Author: ira
•3:27 AM

Senyap
Angin bertiup lamat-lamat

Wez zz zz we zz zz Wez zzz

Wezz zz We z z z

Wez zz zz wez z zz z z

W ez z z ze

Selengkapnya..
Author: ira
•3:22 AM

Duduk sendiri
Berhimpit mesra dengan bayangan
Diam
Bayangan setia
Serasi dalam gerak
Menatap bebas entah kemana

Selengkapnya..
Author: ira
•3:22 AM

Malam musim gugur yang murung
Daun tinggalkan dahan
Bulan mengintip malu di balik mega
Agin berhembus lirih, sepi

Dingin, beku
Dahan menggigil kaku
Embun jatuh satu-satu
Pelan terisak di peraduan
Rindu…….

Selengkapnya..